jakarta

Find the Others

Di dalam melakukan dan mempercayai suatu hal akan sangat menyenangkan bila kita tidak melakukannya sendirian. Kali ini konteksnya kebetulan berkaitan dengan medium gambar.

Dalam aktivitasnya menggambar memang seringkali dilakukan sendirian, pelaku gambar cenderung tenggelam dalam kesendirian dan dunianya sendiri, mengasah teknis dan rasa untuk kemudian dituangkan ke dalam wujud dua dimensi yang dapat ia pandangi sendiri dan jika beruntung dinikmati oleh ‘penonton’ yang lebih luas. Lucian Freud, pelukis asal Inggris yang dikenal dengan obsesinya atas momen sendirian telah membuktikan kesaktian menarik diri dari hiruk pikuk keramaian dengan jajaran lukisan portrait dan figur yang mengaduk-aduk emosi. Begitu juga Van Gogh yang berakhir tragis dengan akhir masa hidup yang dicekik sepi, ironisnya ia tidak sempat menikmati kegemilangan karya-karyanya yang kini disebut sebagai masterpiece. Ada juga seniman outsider, Henry Darger yang hampir sepanjang hidupnya mengurung diri di dalam hunian tipe studio dan tidak berhenti membuat naskah cerita sebanyak 1,500 halaman dan beratus-ratus gambar seputar sosok anak kecil yang tidak wajar, perang, dan kematian.

Sampai di hari ini romantisme kesendirian tersebut kini terasa begitu mahal dan tidak masuk akal di tengah arus informasi yang cepat dan kepungan visual dari berbagai arah. Belum lagi problematika sosial dan budaya yang tak berhenti muncul ke permukaan.

Sendiri berarti tertinggal. Sendiri adalah egois.

GLL 13 DES 14 (20)

Dewi Kucu

GLL 13 DES 14 (1)

Salah satu hasil karya peserta lokakarya paper cutting.

Sebagai penyedia atau penikmat konten, ada tekanan bawah sadar untuk mampu menyaring dan menyerap informasi dengan tepat guna, dan jika memiliki energi lebih, meresponnya. Lambat laun menemukan ‘teman’ yang mencintai hal yang serupa dengan kelenturan pikiran yang mumpuni menjadi jawaban paling masuk akal untuk menjaga energi dan semangat berkarya.

GLL 13 DES 14 (26)

Cut & Rescue

GLL 13 DES 14 (27)

Hair dryer, alat krusial di dalam proses cetak sablon.

Kesamaan tersebut yang kami temukan dari seluruh pengisi acara Gambar Lebih Lanjut, kesamaan yang tidak dijadikan landasan namun secara tidak sengaja menjadi benang merah. Cut & Rescue, Dewi Kucu, Ario Anindito, Mayumi Haryoto, MG Pringgotono, dan Firman Widyasmara adalah praktisi seni dan kreatif yang bekerja dengan sistem komunal. Mereka membentuk komunitas, membangun tim, menyusun sistem, berorganisasi, berkomunikasi, dan membuat jaringan. Mereka meletakkan kedua kakinya di dua dunia sekaligus. Dunia kesendirian ketika mereka harus berpikir dan mengeksekusi karya, dan dunia komunal ketika mereka harus menyebarkan ‘suara’ dan karya mereka di luar sana. Bahasa yang digunakan mungkin berbeda-beda tetapi semangat mereka sama.

GLL 13 DES 14 (17)

Kiri ke kanan: Gilang Gombloh (moderator), Mayumi Haryoto, MG Pringgotono, Firman Widyasmara, dan Ario Anindito.

Gambar Lebih Lanjut dilahirkan untuk menjadi melting point bagi mereka yang mengawali kreasinya dalam bentuk gambar. Mengingat gambar adalah salah satu bahasa paling primitif dalam sejarah umat manusia, maka akan banyak sekali yang melebur pada momen ini, untuk sekedar bertukar pikiran, terinspirasi, terkoneksi, dan pada akhirnya disengaja atau tidak menemukan ‘teman’ yang memiliki cinta yang serupa.

_

Gambar Lebih Lanjut terlaksana bekerja sama dengan Go Ahead Moment yang memiliki fokus untuk turut mengembangkan ranah kreatif lokal khususnya visual art, musik, dan fashion.

_

‘Find the Others’ merupakan kata pengantar katalog Gambar Lebih Lanjut yang versi e-book-nya bisa kamu unduh di sini.

Foto dokumentasi dan hal-hal lain terkait dengan Gambar Lebih Lanjut bisa kamu intip di sini.

Foto: Widhi Asthana
Video: Angkasa Ramadhan

Kenapa “Gambar Lebih Lanjut”?

Melanjutkan itu jelas lebih sulit daripada memulai, hal yang secara personal sangat saya rasakan akhir-akhir ini. Memutuskan untuk memulai menggambar di tahun 2009 (menggambar sudah saya lakukan sejak balita; untuk bersenang-senang; rekreasi; membunuh bosan; merasa berguna) itu cenderung mudah walaupun memang harus ada eureka! moment sebelum akhirnya dengan sadar konsisten menggambar tanpa membebankan pretensi atau target apapun di dalamnya.

Sampai di hari ini, kesenangan menggambar itu tetap besar tapi banyak yang berubah, seiring dengan hal-hal yang terjadi pada hidup keseharian maupun yang berkaitan dengan gambar itu sendiri, pada kehidupan keseharian tentu saja tidak penting untuk dibagi, yang berkaitan dengan gambar misalnya: pekerjaan komersil, pameran, target, dsb. Hal-hal ini secara tidak sadar mempengaruhi cara saya melakukan aktivitas menggambar maupun sudut pandang melihat medium gambar itu sendiri, tentu ada baik dan buruknya.

Tahun ini adalah masa dimana saya mencoba mendefinisikan kembali arti gambar buat saya pribadi, membuatnya kembali natural dan menjadi bahasa untuk bersenang-senang. Di tengah proses tersebut saya menyadari satu hal, bahwa untuk membuatnya kembali natural saya harus ‘melanjutkan’ kegiatan gambar saya ke jalan selanjutnya, agar saya kembali berada di titik belajar dan mencoba-coba, melanjutkan selalu dekat dengan proses trial and error. Dalam kasus saya so far, lebih banyak error-nya :D

Saya jadi banyak melihat kepada mereka yang sudah ‘melanjutkan’ medium gambar ke tahap lain baik secara teknis ataupun makna. Saya beberapa kali mendiskusikan dengan beberapa teman mengenai hal ini dan kami tiba di concern yang sama bahwa begitu banyak peminat medium gambar namun begitu sedikit wawasan kemana medium ini bisa dibawa.

Didukung oleh Go Ahead People yang memiliki semangat yang sama dan telah mendukung ranah visual art lokal agar terus menggeliat, kami pun bekerja sama mewujudkan sebuah wadah bagi mereka yang di mata kami telah ‘melanjutkan’. Kami duduk bersama ditemani sekotak tahu isi, risoles, teh kotak, dan cabe rawit, berbincang-bincang tentang gambar dan melahirkan Gambar Lebih Lanjut bersama para pelakunya.

Cut & Rescue, seniman kolektif

local fest display banner 1 local fest display banner 2Satu kata untuk mereka: brengsek. Dalam arti yang baik, karya mereka membuatmu mempertanyakan lagi arti estetika yang sudah ada dan seketika menyadari bahwa karya itu tidak mesti selalu indah berdasarkan opini umum. Indah itu adalah mengocok perutmu dengan lelucon yang brengsek, imaji brengsek, namun dengan brengseknya tinggal dan menggetarkan pikiranmu. Di Gambar Lebih Lanjut mereka akan sharing teknik kolase dan sablon.

Dewi Kucu, paper artist

Cutteristic Kuda - Jaran Singasari Anton Ismael smallEfek yang timbul pada diri saya saat melihat karya Dewi Kucu adalah capek tapi kagum. Teknik paper cutting adalah salah satu teknik craft paling tua dari Cina. Tua tapi tidak pernah mati dimakan waktu. Di era serba instan sekarang ini selalu ada rasa respek dengan mereka yang memilih medium demanding dalam arti memerlukan waktu panjang dalam eksekusi dan kesabaran besar. Dewi akan membagikan teknik melakukan paper cutting di sesi lokakarya Gambar Lebih Lanjut, siap-siap pegal tapi happy!

Ario Anindito, komikus & creative director

Ariopg8 small redhood smallSaya menduga Ario Anindito dianugerahi kapasitas otak yang besar. Dia bisa mengeksekusi berbagai medium dengan baik dari ilustrasi, komik, concept art, creative director, dan art director. He’s a true reneissance man yang sekarang sudah jarang ditemukan. Sejak kami masih sama-sama mengenyam pendidikan Arsitektur di Universitas Parahyangan, Ario adalah seorang penggambar yang memang tergila-gila dengan mediumnya. Saya masih ingat sampai sekarang kalimat dari dia, “gue sering mulai menggambar di malam hari lalu tidak sadar sudah adzan subuh.”.

Mayumi Haryoto, ilustrator & pendiri FABULA

EfektifMemecahkanMasalah_Haryoto small Payung Teduh_Digipak_OK2Sebelum saya mulai menggambar Mayumi sudah lebih dahulu malang melintang di dunia ilustrasi. Waktu itu saya adalah salah satu dari banyak orang yang mengidolakan perempuan ini. Sebelum menjadi ilustrator ia sudah banyak menelan asam garam di dalam pekerjaan dunia kreatif. Kemudian fokus menjadi ilustrator komersil, lalu sempat berpetualang ke negara lain yang kemudian membuat dia menyadari, Indonesia harus memiliki market yang sehat dan platform ilustrator komersil yang dikelola baik oleh mereka yang paham. Kemudian ia mendirikan FABULA, yang menurut saya memang bukan yang pertama tapi agensi ilustrator lokal paling profesional saat ini.

MG Pringgotono, pendiri seniman kolektif SERRUM

movingpeople_MGpringgotono (3) movingpeople_MGpringgotono (4)“Yang namanya seniman harus bisa membiayai dirinya sendiri, hal ini gue sadari sekali. Makanya di SERRUM selain berkarya kita juga bekerja untuk hidup, tentu saja masih di lingkup yang kami sukai dan kuasai. Yang bikin sebuah organisasi atau idealisme bubar jalan kalau sisi itu tidak diperhatikan.”. Masuk akal, ketika kebutuhan dasar untuk hidup sudah terpenuhi maka seorang manusia merdeka untuk berkarya dan itulah yang dilakukan oleh SERRUM, yang saat ini memiliki 12 pengurus dan puluhan anggota. Mereka membuat sistem hidup komunal yang sesuai dengan ideologi mereka. Pameran tunggal pertama mereka bertajuk “kurikuLAB” fokus pada sistem edukasi di Indonesia, cukup progresif, pamerannya terdiri aktivitas diskusi dan pameran artefak diskusi tersebut.

Firman Widyasmara, animator dan pendiri Studio Lanting

BALLOONS sm PRET smallMenjadi ilustrator kemudian banting setir menjadi animator. Saat Firman memulai fokus pada medium animasi, jalan tersebut bukanlah jalan yang ramai dipilih orang sebagai pekerjaan utama. Namun kecuekan Firman sudah membuahkan hasil, banyak penghargaan dalam maupun luar negeri yang sudah ia raih, terakhir adalah menjadi film animasi terbaik di Akademi Film Indonesia 2014 untuk karyanya berjudul “PRET”. Kamu mesti datang ke diskusi terbuka untuk menyaksikan karya ini, yang memang sungguh pret!

Kalau memang kamu mengaku suka menggambar dan senang mengapresiasi gambar rugi adanya bila kamu tidak menyempatkan diri datang ke acara ini. Kelas lokakarya sudah penuh, tapi kamu bisa datang ke diskusi terbuka. Buat hari Sabtumu berkesan, angkat pantatmu dari kasur dan sofa, jauhkan mata dari layar digital, karena hidup komunal dan senang berbagi adalah sebuah pintu ajaib ke mana saja. Sampai jumpa tanggal 13 Desember!

GLL e-flier_r1_1PETA LOKASI
Note #1: Kursi untuk diskusi terbuka hanya ada +80 kursi, segera reservasi tempatmu!

Note #2: Coffee break disediakan oleh panitia disiapkan oleh Rock N’ Roll F&B by my favourite photographer/chef Anton Ismael.

LINK: gambarlebihlanjut.tumblr.com

[LE EVENT] GAMBAR LEBIH LANJUT

GLL e-flier_r1_1“GAMBAR LEBIH LANJUT”
lokakarya dan diskusi

Sabtu, 13 Desember 2014
10.00 – 18.00 WIB

Third Eye Space
Jl. Nangka 1 no.6
Cipete – Jakarta Selatan

Pemateri Lokakarya:
Cut & Rescue, sablon dan kolase |
http://cutandrescue.tumblr.com
Dewi Kucu, paper cutting | http://cutteristic.com

Persyaratan peserta lokakarya:

  1. Berusia di atas 18 tahun
  2. Menyukai medium gambar dan senang mencoba hal-hal baru
  3. Mengirimkan data diri, nama, nomer telepon, lokakarya yang dipilih dan beberapa karya gambar ke gambarlebihlanjut@gmail.com paling lambat 9 Desember 2014Pengumuman 15 (lima belas) untuk masing-masing peserta lokakarya terpilih akan dilakukan pada tanggal 10 Desember 2014 melalui e-mail.

Pembicara Diskusi:
Ario Anindito
, komikus & creative director | http://arioanindito.daportfolio.com
Fabula (Pembicara: Mayumi Haryoto), illustrator | http://fabula.co.id
Firman Widyasmara, animator | http://lantinganimation.com
Serrum (Pembicara: MG Pringgotono), seniman | http://serrum.org

Gratis!
Informasi & RSVP (tempat terbatas):
gambarlebihlanjut@gmail.com
0819 3214 7525

GAMBAR LEBIH LANJUT

Bagaimana menggerakkan kelompok kecil yang berawal dari kerja individu sehingga dapat menjadi kekuatan perubahan ke arah yang lebih baik lagi?

Gambar Lebih Lanjut adalah sebuah proyek yang terdiri dari kegiatan lokakarya dan diskusi terbuka yang mengulas tentang bagaimana aksi menggambar sebagai sebuah pengalaman dasar membentuk seseorang menjadi lebih peduli lingkungan dan mediumnya. Kesadaran itu terus tertanam dan membuat berpikir bahwa “kesederhanaan” gambar merupakan kerumitan atau kekompleksannya juga. Jelaslah bahwa gambar dapat terus dapat dibedah, diceritakan ulang, dibongkar, dieksplorasi, gambar adalah rekaman, dan seterusnya.

Menelusuri gambar sampai hari ini masih dapat terus dieksplorasi hingga menemukan kemungkinan-kemungkinan baru menjadikannya sebuah kekayaan. Lantas juga menjadikan kita peka terhadap kelanjutan medium gambar yang dapat dikembangkan melintasi disiplin ilmu dan medium lainnya. Dalam kesempatan ini kami mencoba menelaah gambar melalui medium teknik sablon dan kolase, paper cutting, komik, gambar sebagai bahasa, gambar bergerak, dan sebagai bahasa visual industri.

Kegiatan Gambar Lebih Lanjut yang didukung oleh Go Ahead People menjadi wadah untuk berkumpul, bertukar pikiran, berbagi pengalaman, menajamkan pengetahuan, mempererat hubungan satu profesi maupun yang tidak satu profesi, memperkenalkan dan membuka wawasan baru, meningkatkan kepedulian terhadap budaya dan lingkungan sekitar sehingga menumbuhkan cara berpikir yang kritis dan kreatif, sebagai ruang alternatif bekerja dan menyebarkan informasi yang berguna, sebagai ruang untuk mengekspresikan diri melalui karya.

Gambar Lebih Lanjut sebagai acara awal dan berskala kecil ini diharapkan akan menjadi lebih besar dengan terjadinya kerjasama antara pengisi acara, peserta lokakarya, peserta diskusi, dan semua yang terlibat secara langsung maupun tidak. Yang secara berkesinambungan terjadi melalui acara yang digelar secara periodik oleh perseorangan atau komunitas yang memiliki kepedulian serupa.

lokakarya-1_a3_print_2in2lokakarya-2-in

on JAX magazine

“Eat baby, like there’s no tomorrow.”

_

Inspired by Mangkok Ayam Jago t-shirt I’ve recently purchased from here.

the irony of this (artsy) country

I still remember back on mid 2008. When I start drawing religiously (like every single day) without knowing why and what I want to achieve through my drawing. Well, the truth is I still confuse until today. 4 years already passed, slowly but not surely I get to know people from this so called art scene. The big guy also the struggle one. They’re all talented and know exactly what they’re doing, both of them. But I can see the tiredness in their face, just like what I feel. Because we fight alone. We have to find our way alone. We have to work hard on our art alone. We have to motivating ourself alone. We have to keep searching how to get noticed. We have to keep reminding ourself that we’re doing all of this because we believe in ourself, in our work. Some of you will said, it’s only 4 years. But believe me I know many people who work their ass off for more than 10 years (the 10,000 hours rule doesn’t work here), got the talent, got the mind, got the spirit, got the ‘mecun’ thing but nothing happen.

I did a little research about this scene out there, I envy them. They seem like have all kind of help we needed here. The organisation, the people, the website, the community, the how to, the support, the exhibition, the everything. When I visited Yogya for Artjog2012, I can see that they’re luckier than us here in Jakarta. Not much but enough. It’s not easy to live as an fulltime artist here, we have to work our ass to get money, to live, to socialize, to held an exhibition, to make our art. And that’s the evil circle. We’re worn out and feel tired all the time. And we’re still fighting alone. Well maybe not we, it’s more like my current situation. I have 3 notebooks full with sketches (and lost 1 already) and ideas and to do list without any realization, not even close. There’re days when I feel so tired that I’ll hate my own drawing and ideas. Also I hate people who have too much opinion. I become this other “full with hate” person. Hate that.

When I feel so numb, lazy, and negative.

I received this strange email from a girl, Felicia, she said she’s from +62. She asked for a meeting, I said yes because I always open for every possibilities and anything outside my routine. She’s not an Indonesian and neither her partner, Patrick. They’re from Canada and England. They have this mission to spread Indonesian artist to the world scene. They already approach almost every artist in Jakarta and now Bandung and Yogyakarta. The big guy and the struggling one, like myself. I asked them “Why?” and they said “Why not?”. And I can feel their honesty, without any hidden agenda. Which is very rare to found here. According to their opinion, they see too many wasted talents here (in Indonesia) because of the lack of opportunities and information. That exact moment I feel a bit angry with this country or I have to say the government. The carelessness. Why it always have to be someone from the outside? And believe me, these two are working really fast and based on a tight deadline. How not Indonesian is that?

I don’t care how they’ll running this +62. Or is it gonna work or not. But I like the spirit. The nothing to lose spirit. The unstoppable atmosphere.

Left to right: Interview from Andi Rharharha, Ika Vantiani, Emte, me, Wedhar Riyadi, Ella Wijt, Wormo, Popo, Koma, and Ika Putranto and more to come.

One more thing, I might still full with hate here and there. But I’m getting better inside (yeah, yoga’s working) and get back to work.

_

PS: Don’t worry. This kind of writing won’t make any appearance in the near future.

Jak-art-a, 11 Oct ’12

circus themed compparel specially made for you


Here’s the story about this series :)

You’re A Part Of Everything

We have this believe that everyone have the same level of importance. Each of us have the same capacity to build the best of ourself and be the happiest person. To love and to be loved. To become one harmony, just like circus.

For more information please visit Verre Compparel links below:
verrecompparel.com | Verre Compparel FB page | Verre Compparel on Twitter

xx

a collaboration with Emte for Verre Compparel

the too sweet sneak peek announcement

And here’s our artworks sneak peek :)

Emte's

Lala's

Both of our works will launch within this month before Valentine’s Day so keep yourself posted. For more information visit Verre Compparel official website here and follow their twitter. Please and thank you :)

xx

area 8th anniversary | just be yourself no matter how shitty you are

click image to read the interview

My artwork specially made for “Celebrating area 8th Anniversary” issue.
Read other artists interview here.

must have item: limited edition Kopi Keliling tumbler by 10 artists

Buy these limited edition illustrated tumbler by 10 talented artists at kopikeliling.com for IDR 65,000 each :)