12 for 2012 with Sundea: Iris* the final chapter

Sebelum baca cerita akhir dari Iris (yang sebelumnya berjudul […..]) intip dulu chapter 1, 2, dan 3 ya.

CHAPTER 4

Manik yang sedang asyik menggambar pura-pura tidak mendengar.

Tingtong

Dan bel berbunyi sekali lagi.

“Maniiiik … tolong dong, Dear … Bibi lagi ke warung!” seru Intan lagi.

Manik meletakkan pinsil warnanya sambil cemberut. Kenapa nggak Kak Intan saja, sih? Jelas-jelas dia yang ada di luar kamar.

 ***

Ketika Manik membukakan pintu, telah menanti Oka, tetangga mereka. Oka sebaya dengan Intan. Meski lahir dan besar di Jakarta, Oka keturunan Bali asli. Nama lengkapnya Ida Bagus Oka.

“Kak Intan ada, Nik?” tanya Oka dengan suaranya yang dalam dan simpatik.

“Ada. KAK INTAAAAN … !!!!” teriak Manik.

Tidak ada sahutan.

“Kakak lagi pingsan, kali. Aku lihat dulu, ya,” sahut Manik sekenanya.

Oka tertawa. Tawanya renyah, manis, dan hangat seperti roti bakar. Lesung di pipi kirinya jadi semakin jelas. Manik tersenyum. Melihat Oka tertawa selalu membuat siapapun menjadi senang.

 ***

“Siapa, Dik? Oka?” tanya Intan yang baru selesai shalat.

“Iya,” sahut Manik.

“Sudah kamu suruh masuk?”

“Belum, masih berdiri di pintu.”

“Heeeeh … gimana, sih, kamu?” cepat-cepat Intan melepas mukenanya dan pergi menemui Oka. Ketika Manik akan mengekor, Intan menahannya. “Jangan ikut-ikutan, Dik, kamu suka nggak manner.”

Manik memanyunkan bibirnya.

 ***

Karena dilarang mengikuti, Manik mengintip Intan dan Oka dari jendela kecil yang memisahkan sekaligus menghubungkan ruang tamu dengan dapur. Intan dan Oka duduk di sofa yang sama tapi tidak terlalu berdekatan. Mereka tidak saling bersentuhan. Sempat tak sengaja saling bertatapan, namun menjadi sama-sama merona pada detik berikutnya.

Manik tidak memahami puisi-puisi cinta Intan. Tapi karena Intan adalah kakaknya, bagian-bagian terbaik yang ia pahami dari Intan justru yang tak dikatakannya. Ketika Intan masuk ke dapur untuk membuat minuman, Manik mulai mengganggunya.

“Cieee … cieeee … Kak Intan pacaran, ya, sama Kak Oka? Pacaran, ya? Pacaran, ya? Pacaran, ya?”

“Apa, sih, Dik?” tepis Intan sambil membuka pintu kulkas, mengambil botol sirup.

“Iya, kayaknya Kak Oka suka sama Kak Intan. Kak Intan juga pasti suka sama Kak Oka.”

“Susah, Dik. Nggak pernah disampaikan juga. Aku tahu aku siapa, dia tahu dia siapa,” ungkap Intan sambil menuang sirup ke dalam gelas.

Manik teringat pada denting yang didengarnya hari itu. Jadi ia meneruskannya pada Intan. “Bergantung apa yang Kakak maksud dengan ‘siapa’.”

Intan terkesiap. Ia menatap adiknya dengan takjub. “Dapat kata-kata dari mana kamu?”

“Memangnya Kak Oka siapa?” Manik malah balik bertanya.

“Oka itu ….,” Intan tidak melanjutkan kalimatnya. Ia sibuk mengaduk sirup sambil masih tampak berpikir. Ketika akan kembali ke ruang tamu, barulah ia menuntaskan kalimatnya. “Oka itu laki-laki paling baik, pintar, dan sopan yang pernah aku kenal. Seharusnya itulah yang menjelaskan siapa dia dalam persepsi pribadiku.”

“Apa itu persepsi?” tanya Manik.

Intan tidak menjawab. Tapi Manik pun tak sungguh-sungguh ingin tahu.

 ***

Malam itu hujan turun lagi. Intan kembali duduk di dekat jendela, mendengarkan lagu-lagu romantis sambil mengamati hujan yang sebetulnya tak terlalu terlihat juga karena langit sudah gelap.

Manik duduk di sebelahnya. Menatap hujan juga dengan pikiran yang lain: Kenapa pelangi harus dikeramas sampai dua kali dalam sehari?

“Dik, kadang ada hal yang tak dapat diingkari mengenai ‘siapa’ meskipun kita ingin mengabaikannya. Oka dan aku mencapai Tuhan dengan cara yang berbeda. Itu jadi menentukan siapa kami.”

Yah, Si Kakak mulai menye-menye lagi, deh. Batin Manik.

“Tapi hujan turun meluruhkan semuanya. Ia membersihkan dan menyejukkan tanpa memilih ‘siapa’. Hujan membuat aku percaya, sesungguhnya Tuhan satu. Ia selalu berbicara dengan bahasa yang universal.”

“Apa itu universal?” tanya Manik.

Intan tidak menjawab. Ia yakin adiknya tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Dan memang. Manik lebih ingin tahu kenapa pelangi harus keramas lagi.

Intan dan Manik duduk menghadap jendela dengan pikirannya sendiri-sendiri. Intan menulis puisi dan Manik menggambar.

Hujan yang turun malam itu tidak menguraikan tak pula menyimpulkan.

Sesungguhnya ia berderai tanpa tendensi apa-apa …

Tamat

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

_

*) Akhirnya penulis ceritanya memutuskan judul cerita pendek yang bersambung ini adalah Iris.

Kenapa Iris?

Satu
Iris itu penghubung Tuhan dan dunia manusia. Wujudnya pelangi. Dia sering juga disebut “Messenger of God“. Si Iris ini pengembaraannya luas banget. Dia jalan-jalan naik angin dan bisa nyelem sampe ke laut yang paling dalem. Pengembaraan ini berkaitan sama tafsir yang nggak harus tersimpul dan nggak harus terurai itu.

Yang ngobrol sama Manik mungkin aja Iris. Ato mungkin Tuhan sendiri dan Iris cuma semacem “kabel telpon”. Setiap orang boleh punya persepsi apapun tentang ini.

Iris juga jelas berkaitan sama Intan yang love story-nya kesandung beda agama. Tapi agama nggak selalu Tuhan itu sendiri. Tuhan kadang nitip pesen lewat hal-hal yang lebih universal sifatnya. Pada dasarnya Dia dimiliki semua orang, with or without religion.

Dua
Iris itu nama lain selaput pelangi di mata. Selaput pelangi ini teksturnya kompleks dan personal kayak sidik jari. Dia juga nggak gampang dirusak, bahkan sama pembedahan. Kalo kata Wikipedia : Kecepatan dan ketelitian dari sistem pengenalan berbasis Iris sangat menjanjikan dan sangat memungkinkan untuk digunakan pada sistem identifikasi berskala besar.

Gambar dan cerita ini bisa dilihat sampai lapis ke berapapun. Mau dibawa ringan, nggak usah dipikir serius-serius amat, bisa. Tapi kalo mau dipikirin lebih jauh bisa juga. Sampe sejauh mana juga terserah pemirsa … hehehe … sama seperti apapun yang ditangkep sama mata kita. Boleh dilihat doang, boleh dipikirin lebih lanjut.

And now you will love Sundea and her loveable mind like I do.
Thank you for January, Dea
🙂

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s