12 for 2012 with Sundea: [ ……… ]* chapter 3

Jika belum sila baca [ ……… ]* chapter 1 dan 2

CHAPTER 3

“Kamu mencari ujung pelangikan? Buka jendela kamar kamu,” suruh suara itu.

Manik terkesiap. Dengan segera ia membuka jendela kamarnya.

Ternyata ujung pelangi jatuh persis di depan kamar Manik, membuat paving block jadi warna-warni. Pelangi itu sendiri terlihat seperti rambut yang sangat panjang. Manik tengadah mencari pangkalnya, tapi tak terlihat.

“Jangan khawatir, sebentar lagi kering. Nanti warna jendela dan paving block-mu akan kembali seperti sediakala,” ujar suara itu.

“Jadi pelangi itu apa, sih? Rambut?” tanya Manik sambil melompat keluar lewat jendela kamarnya. Disentuhnya ujung pelangi yang lembab. Tangan Manik juga jadi warna-warni.

“Iya.”

“Kenapa basah?” tanya Manik lagi.

“Karena baru dikeramas. Kamu tahu, nggak? Hujan itu air keramasku,” sahut denting itu lagi.

“Air keramas? Mhuaaaaahahahaha ….,” Manik terbahak-bahak.

“Kok tertawa, sih?” tanya suara itu.

“Karena kakakku selalu mengganggap hujan itu …. bagaimanaaaaa, begitu.”

“Kakakmu suka membuat puisi, lagu, atau cerita-cerita romantis, ya ….?”

“Iyaaaa … kok kamu tahu? Kakakku suka menulis puisi.”

“Biasanya air keramasku ini memang menginspirasi mereka, membawa mereka pada romantisme tertentu. Aku juga tidak tahu apa yang membuat air keramasku dianggap begitu galau dan sendu. Mungkin wangi shampoku yang membius mereka. Bau hujankan memang khas.”

Manik berjongkok menghirup aroma pelangi. Tetapi ternyata baunya berbeda dengan hujan.

Jika hujan tercium seperti aroma tanah basah, pelangi lebih tercium seperti bunga-bunga yang baru tumbuh.

***

Sebentar kemudian pelangi kering. Warna-warni di tangan, paving block, dan jendela kamar Manik menghilang. Manik kembali menyentuh pelangi yang ternyata agak kusut.

“Namanya juga rambut yang baru dikeramas,” kata suara asing yang berdenting dan lama-lama terdengar semakin menyenangkan bagi Manik.

“Aku sisir, ya,” Manik menawarkan.

“Boleh.”

Manik segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sisir. Rentang pelangi cukup lebar, tapi tipis seperti kertas buku tulis. Menyisirnya susah-susah gampang. Apalagi Manik hanya dapat menyisir sebagian kecil sekali dari pelangi yang panjang dan berpangkal entah dari mana itu.

Bagian terujung dari pelangi pun rapuh dan pecah-pecah.  “Shampo kamu pasti jelek,” tuduh Manik.

“Shampoku bagus. Tapi pelangi inikan panjang sekali, makanya tipis dan pecah-pecah.”

“Apakah pelangi akan tumbuh kalau dipotong?” tanya Manik.

“Iya, sih, tapi pelangi harus selalu panjang agar bisa digerai seperti ini sewaktu-waktu.”

“Ah, banyak aturan. Kalau aku potong ujung-ujungnya saja, bagian yang pecah-pecah, boleh, tidak?” tanya Manik.

“Hmmm … sepertinya tidak apa-apa.”

Manik melompati jendela kamarnya untuk mengambil gunting. Selanjutnya, perlahan-lahan ia mulai memangkas ujung-ujung pelangi yang pecah-pecah dan tidak sehat.

Setelah selesai menyisir dan menggunting ujung pelangi, Manik membuat kepangan kecil-kecil dengan hati-hati agar pelangi yang sudah tipis dan rapuh itu tidak rontok. Sepertinya pelangi suka dikepang-kepang. Ia jadi merasa cantik meski hanya Manik yang dapat melihat kepangan yang tak bermulai dari pangkal rambut itu.

“Hei, terima kasih ya karena sudah merawat rambutku. Sekarang pelangi ini harus digelung lagi,” kata suara berdenting itu ketika waktu beranjak petang.

“Tunggu dulu. Kalau pelangi cuma rambut kamu, siapa kamu sebetulnya?” tanya Manik.

“Siapa aku? Bergantung apa yang kamu maksud dengan ‘siapa’,” kata suara berdenting itu lagi.

Manik terdiam. Ia mengamati pelangi tergelung perlahan, membentuk sanggul kecil dengan latar lembayung ungu-oranye-merah muda. Cantik sekali. Manik belajar bahwa tak semuanya harus tersimpul dan tak semuanya harus terurai. Tak selamanya pelangi harus tergelung, tak selamanya pula harus tergerai.

Sore itu Manik memutuskan untuk menggambar potongan-potongan pengalamannya bermain dengan pelangi yang entah rambut siapa itu …

 ***

 Tingtong …

Bel rumah berbunyi.

“Maniiiik … tolong bukakan pintu!” seru Intan.

Bersambung …

 

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai🙂

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

4 comments

  1. Dear Mbak Lala…
    Salam kenal..🙂
    Ini pertama kali nya aku masuk ke blog Mbak Lala..
    Very Impressed.. Ilustrasinya adorable banget..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s