12 for 2012 with Sundea: [ ……… ]* chapter 2

Jika belum sila baca [ ……… ]* chapter 1 di sini

CHAPTER 2

Intan mengalihkan pandangannya. Sebuah pelangi menjuntai entah dari mana sampai ke mana. Warnanya lembut, namun jelas. Langit yang semu tidak menyamarkannya.

“Bagus, ya, Kak,” kata Manik seraya menempelkan wajahnya di jendela mobil.

“Iya. Hujan dan pelangi itu satu paket. Keduanya indah. Keduanya puisi,” sahut Intan.

“Tapi pelangi bagus. Hujan biasa-biasa saja,” kata Manik sambil masih memperhatikan pelangi selekat-lekatnya.

Intan hanya tersenyum kecil.

“Kak, kayaknya ujung pelangi itu ada di rumah kita, deh,” ujar Manik.

“Oh, ya? Bisa jadi. Kita lihat saja.”

“Ngebut, Kak.”

“Nggak mau.”

Manik memanyunkan bibirnya.

  ***

Pintu gerbang rumah adalah avant garde untuk Manik. Begitu mobil mereka berhenti di depannya, cepat-cepat Manik melompat keluar. Ia sudah berlari ke kebun belakang ketika mobil tengah merayap masuk ke dalam garasi.

Gerbang

Manik ingin cepat-cepat melihat ujung pelangi. Ia yakin pangkal warna-warna itu ada disana.

…. tapi ternyata keyakinan bisa juga salah.

“Ada, Dik?” tanya Intan yang menyusul kemudian.

Manik menggeleng kecewa.

It’s ok,” ujar Intan sambil membelai rambut adiknya. “Setidaknya kamu pernah melihat indah pelangi. Seperti orang yang pada akhirnya patah hati setelah jatuh cinta, kita tak selalu berhasil melihat ujung pelangi di batas kisah.”

Manik tidak mengerti.

“Saat melihat bias warnananya di perjalanan, kamu menemukan esensi pesona dalam indah pelangi itu sendiri, Dik.”

“Apa itu esensi?” tanya Manik.

Tapi Manik tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Ia lebih ingin tahu di mana sesungguhnya ujung pelangi itu daripada arti kata esensi.

Intan pun tak sungguh-sungguh ingin tahu isi pikiran adiknya. Maka, sebelum Manik bertanya apa-apa lagi, ia masuk ke dalam rumah sambil menghela nafas.

***

Manik suka menggambar. Ia menggambar apapun yang menarik perhatiannya atau berkelebat di dalam kepalanya. Pelangi adalah keduanya. Maka pergilah ia ke dalam kamar untuk mulai menggambar.

Meja belajar Manik persis menghadap ke jendela. Jika hari masih terang, Manik tak perlu menyalakan lampu. Setelah hujan lebat siang itu, sore jadi berlimpah cahaya. Manik suka hari yang cerah. Maka, sambil menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan, Manik mulai menarik garis di kertasnya, sampai …

CEPLAK!

“Maaf, maaf,” ucap sebuah suara yang entah dari mana datangnya. Manik tak mengenal suara itu. Bukan suara anak-anak, bukan juga suara orang dewasa. Belum tentu suara perempuan, belum tentu juga suara laki-laki. Suara tersebut ringan seperti denting.

Manik terperanjat. Gambarnya tercoret. Sesuatu yang entah apa tampak baru saja menampar jendela kamarnya dengan warna-warni. Warna-warni tersebut luruh di permukaan kaca seperti cat yang belum kering.

Manik menegakkan tubuhnya dan mengambil sikap waspada. “Siapa kamu?” tanya Manik.

“Siapa aku? Bergantung apa yang kamu maksud dengan ‘siapa’.”

“Kamu seperti kakak aku, deh. Kadang-kadang ngomongnya nggak jelas. Siapa kamu?” Manik mengulang pertanyaannya. Kali itu lebih tegas.

Bersambung …

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai🙂

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s