12 for 2012 with Sundea present [ ……… ]*

CHAPTER 1

Manik mengintip apa yang ditulis kakaknya di atas selembar tisu. Kakaknya, Intan, menjadi risih.

“Ngapain kamu, Dik?”

“Ngintip,” sahut Manik seadanya.

“Pindah duduk ke depan aku saja sana, jangan ngintip-ngintip. Kalau mau pesan minum lagi, pesan saja,” suruh Intan.

“Kalau pesan es krim boleh?” tawar Manik.

“Teh!” tegas Intan.

Maka Manik berlari-lari ke bar, memesan segelas teh panas lagi, kemudian kembali duduk. Kali itu bukan di samping Intan, melainkan di depannya.

Intan selalu suka hujan. Jika hujan turun dan kebetulan ia sedang ada dekat-dekat jendela, pasti begitu kelakuannya. Duduk dengan tatapan seperti orang habis dibius, kemudian tiba-tiba menulis puisi. Ia juga sering sengaja datang ke kafe untuk duduk minum kopi berbusa sambil menulis.

Bagi Manik, hujan biasa-biasa saja. Maka ia bosan sekali menemani kakaknya di kafe itu. Ketika tehnya datang, ia mencari kesenangan sendiri. Manik meniup-niup tehnya sampai agak dingin, kemudian menjilat-jilatnya seperti kucing minum susu.

“Manik! Stop it ! Jorok!” Intan memelototi Manik.

Jadi Manik berhenti. Cemberut karena tidak tahu harus bersenang-senang bagaimana lagi.

“Ini sebabnya aku malas mengajak kamu jalan-jalan!”

“Kita nggak jalan-jalan. Kita duduk-duduk,” sanggah Manik.

“Kamu harus tahu apa itu inspirasi, Dik. Inspirasi nggak datang sembarangan seperti nyamuk. Inspirasi datang pada moment-moment tertentu, moment-moment yang menurut aku romantis seperti hujan,” tutur Intan.

Nyamuk juga nggak datang sembarangan. Dia datang kalau Bibi lupa menyemprotkan Baygon, batin Manik. Tapi ia tidak menyampaikannya. Ia memilih duduk meminum tehnya sedikit-sedikit sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja.

Kali itu Intan tidak memprotesnya.

***

Teh Manik sudah habis dan sepertinya Intan sudah menyelesaikan puisinya.

“Sudah? Yuk, pulang,” ajak Intan.

Manik sumringah.

“Karena kamu sudah baik, aku belikan es krim. Pilih nanti di Supermarket, ya,” kata Intan sambil mencubit pipi Manik.

Senyum Manik semakin lebar.

Dua bersaudara itu berjalan menuju supermarket mall. Intan menggandeng Manik yang melompat-lompat girang.

Jarak usia Intan dan Manik cukup jauh. Manik baru berusia delapan tahun, sementara Intan sudah sembilan belas tahun. Mungkin karena rentang usia juga, apa yang mereka sukai pun jauh berbeda. Intan suka menguraikan cinta dengan bahasa yang berbunga-bunga, sementara Manik tidak ingin jatuh cinta.

“Teman laki-laki aku nakal-nakal. Jadi aku nggak akan jatuh cinta,” kata Manik.

“Cinta tidak selalu indah, kok, Dik. Patah hati, cinta yang tak berbalas, juga bisa menjadi puisi. Bahkan kadang-kadang puisi yang lebih dalam,” tanggap Intan.

Manik memanyunkan bibirnya.

“Suatu saat kamu akan mengerti apa itu cinta dan apa itu kegalauan, dan hubungannya dengan hujan, Dik,” ujar Intan sambil mengusap rambut adiknya.

Manik tidak menjawab. Tapi dia merasa tak akan pernah mengerti.

***

Manik menikmati es krim pilihannya dalam perjalanan pulang. Intan mengemudi sambil sesekali turut menyenandungkan lagu Someone Like You – Adele yang melantun dari tape mobil. Sementara Intan tenggelam dalam lagu sedih yang terkurung di dalam mobil mereka, perhatian Manik terapung ketika melihat warna-warna cantik yang membias di luar jendela mobil.

“Kak, lihat ….,” tunjuk Manik.

Bersambung …

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai🙂

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

9 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s