Adik Karet

1 2 3 5 6

Proyek kolaborasi kedua bersama Sundea untuk majalah Cobra, kali ini ceritanya mengenai Adik Karet yang lengket ke sana dan ke sini dan temannya lampu natal tak bernama yang sudah rusak dan tidak bisa menyala lagi. Kamu dan kamu yang butuh senyum simpul, ayo baca cerita lengkapnya di sini.

Kalau kata Adik Karet:

Tanpa “u” kata “terbuang” berubah menjadi “terbang”.

Terbuang itu cuma ilusi karena sebenarnya kamu sedang terbang, tinggi, tinggi ke atas menjemput pelangi dan menyapa awan. Begitu kira-kira. Untuk cerita selanjutnya akan segera hadir di ular terdekat!

Image

Gadis Kepala Kardus

Kolaborasi cerita dan ilustrasi dari saya dan Sundea berjudul “Gadis Kepala Kardus” untuk Majalah Cobra yang bisa kamu intip di sini. Berkisah tentang gadis bernama Gek dan sahabatnya si Asap Knalpot.

Seperti biasa kami tidak melewati banyak rencana mendetail, sesederhana mendapatkan ide, mengobrol santai, dan langsung melakukan. Dan hasilnya saya suka sekali, rasanya saya dan Dea memang sudah saling “mengerti” apa yang ingin dicapai. Tidak pernah ada rasa khawatir atau penasaran akan seperti apa hasil akhirnya kalau bekerja dengan Dea. Yang mana sangat menyenangkan :)

Salah satu kalimat yang paling saya suka dari cerita ini,

Hidup justru bisa ditemukan di luar sekardus konvensi dan pertimbangan.

I always love your mind, Dea.

Iris e-book & mixtape | our Valentine present for you #12for2012

Akhirnya e-book Iris kolaborasi dengan Sundea selesai juga :)

Nikmati ceritanya sambil mendengarkan mixtape ramuan Sundea:
Opposite of Hallelujah – Jens Lekman
Rainbow – Lee Ritenour
Rainbow Connection – Kermit the Frog
Pelangiku – Sherina
Waiting in Vain – Ituana
Sleeps with Butterflies – Tori Amos
Gone Too Soon – Michael Jackson
Rintangan – Karimata, Lydia Nursaid, Dian Pramana Poetra
The Lady Wants to Know – Michael Franks

Cover ini pun dibuat sambil mendengarkan mixtape Iris, menyenangkan sekali.

Teman-teman silahkan unduh e-book dan mixtapenya di sini. Dan akhir kata, selamat hari kasih sayang, mari menyayangi untuk disayangi!

xx

12 for 2012 with Sundea: Iris* the final chapter

Sebelum baca cerita akhir dari Iris (yang sebelumnya berjudul [.....]) intip dulu chapter 1, 2, dan 3 ya.

CHAPTER 4

Manik yang sedang asyik menggambar pura-pura tidak mendengar.

Tingtong

Dan bel berbunyi sekali lagi.

“Maniiiik … tolong dong, Dear … Bibi lagi ke warung!” seru Intan lagi.

Manik meletakkan pinsil warnanya sambil cemberut. Kenapa nggak Kak Intan saja, sih? Jelas-jelas dia yang ada di luar kamar.

 ***

Ketika Manik membukakan pintu, telah menanti Oka, tetangga mereka. Oka sebaya dengan Intan. Meski lahir dan besar di Jakarta, Oka keturunan Bali asli. Nama lengkapnya Ida Bagus Oka.

“Kak Intan ada, Nik?” tanya Oka dengan suaranya yang dalam dan simpatik.

“Ada. KAK INTAAAAN … !!!!” teriak Manik.

Tidak ada sahutan.

“Kakak lagi pingsan, kali. Aku lihat dulu, ya,” sahut Manik sekenanya.

Oka tertawa. Tawanya renyah, manis, dan hangat seperti roti bakar. Lesung di pipi kirinya jadi semakin jelas. Manik tersenyum. Melihat Oka tertawa selalu membuat siapapun menjadi senang.

 ***

“Siapa, Dik? Oka?” tanya Intan yang baru selesai shalat.

“Iya,” sahut Manik.

“Sudah kamu suruh masuk?”

“Belum, masih berdiri di pintu.”

“Heeeeh … gimana, sih, kamu?” cepat-cepat Intan melepas mukenanya dan pergi menemui Oka. Ketika Manik akan mengekor, Intan menahannya. “Jangan ikut-ikutan, Dik, kamu suka nggak manner.”

Manik memanyunkan bibirnya.

 ***

Karena dilarang mengikuti, Manik mengintip Intan dan Oka dari jendela kecil yang memisahkan sekaligus menghubungkan ruang tamu dengan dapur. Intan dan Oka duduk di sofa yang sama tapi tidak terlalu berdekatan. Mereka tidak saling bersentuhan. Sempat tak sengaja saling bertatapan, namun menjadi sama-sama merona pada detik berikutnya.

Manik tidak memahami puisi-puisi cinta Intan. Tapi karena Intan adalah kakaknya, bagian-bagian terbaik yang ia pahami dari Intan justru yang tak dikatakannya. Ketika Intan masuk ke dapur untuk membuat minuman, Manik mulai mengganggunya.

“Cieee … cieeee … Kak Intan pacaran, ya, sama Kak Oka? Pacaran, ya? Pacaran, ya? Pacaran, ya?”

“Apa, sih, Dik?” tepis Intan sambil membuka pintu kulkas, mengambil botol sirup.

“Iya, kayaknya Kak Oka suka sama Kak Intan. Kak Intan juga pasti suka sama Kak Oka.”

“Susah, Dik. Nggak pernah disampaikan juga. Aku tahu aku siapa, dia tahu dia siapa,” ungkap Intan sambil menuang sirup ke dalam gelas.

Manik teringat pada denting yang didengarnya hari itu. Jadi ia meneruskannya pada Intan. “Bergantung apa yang Kakak maksud dengan ‘siapa’.”

Intan terkesiap. Ia menatap adiknya dengan takjub. “Dapat kata-kata dari mana kamu?”

“Memangnya Kak Oka siapa?” Manik malah balik bertanya.

“Oka itu ….,” Intan tidak melanjutkan kalimatnya. Ia sibuk mengaduk sirup sambil masih tampak berpikir. Ketika akan kembali ke ruang tamu, barulah ia menuntaskan kalimatnya. “Oka itu laki-laki paling baik, pintar, dan sopan yang pernah aku kenal. Seharusnya itulah yang menjelaskan siapa dia dalam persepsi pribadiku.”

“Apa itu persepsi?” tanya Manik.

Intan tidak menjawab. Tapi Manik pun tak sungguh-sungguh ingin tahu.

 ***

Malam itu hujan turun lagi. Intan kembali duduk di dekat jendela, mendengarkan lagu-lagu romantis sambil mengamati hujan yang sebetulnya tak terlalu terlihat juga karena langit sudah gelap.

Manik duduk di sebelahnya. Menatap hujan juga dengan pikiran yang lain: Kenapa pelangi harus dikeramas sampai dua kali dalam sehari?

“Dik, kadang ada hal yang tak dapat diingkari mengenai ‘siapa’ meskipun kita ingin mengabaikannya. Oka dan aku mencapai Tuhan dengan cara yang berbeda. Itu jadi menentukan siapa kami.”

Yah, Si Kakak mulai menye-menye lagi, deh. Batin Manik.

“Tapi hujan turun meluruhkan semuanya. Ia membersihkan dan menyejukkan tanpa memilih ‘siapa’. Hujan membuat aku percaya, sesungguhnya Tuhan satu. Ia selalu berbicara dengan bahasa yang universal.”

“Apa itu universal?” tanya Manik.

Intan tidak menjawab. Ia yakin adiknya tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Dan memang. Manik lebih ingin tahu kenapa pelangi harus keramas lagi.

Intan dan Manik duduk menghadap jendela dengan pikirannya sendiri-sendiri. Intan menulis puisi dan Manik menggambar.

Hujan yang turun malam itu tidak menguraikan tak pula menyimpulkan.

Sesungguhnya ia berderai tanpa tendensi apa-apa …

Tamat

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

_

*) Akhirnya penulis ceritanya memutuskan judul cerita pendek yang bersambung ini adalah Iris.

Kenapa Iris?

Satu
Iris itu penghubung Tuhan dan dunia manusia. Wujudnya pelangi. Dia sering juga disebut “Messenger of God“. Si Iris ini pengembaraannya luas banget. Dia jalan-jalan naik angin dan bisa nyelem sampe ke laut yang paling dalem. Pengembaraan ini berkaitan sama tafsir yang nggak harus tersimpul dan nggak harus terurai itu.

Yang ngobrol sama Manik mungkin aja Iris. Ato mungkin Tuhan sendiri dan Iris cuma semacem “kabel telpon”. Setiap orang boleh punya persepsi apapun tentang ini.

Iris juga jelas berkaitan sama Intan yang love story-nya kesandung beda agama. Tapi agama nggak selalu Tuhan itu sendiri. Tuhan kadang nitip pesen lewat hal-hal yang lebih universal sifatnya. Pada dasarnya Dia dimiliki semua orang, with or without religion.

Dua
Iris itu nama lain selaput pelangi di mata. Selaput pelangi ini teksturnya kompleks dan personal kayak sidik jari. Dia juga nggak gampang dirusak, bahkan sama pembedahan. Kalo kata Wikipedia : Kecepatan dan ketelitian dari sistem pengenalan berbasis Iris sangat menjanjikan dan sangat memungkinkan untuk digunakan pada sistem identifikasi berskala besar.

Gambar dan cerita ini bisa dilihat sampai lapis ke berapapun. Mau dibawa ringan, nggak usah dipikir serius-serius amat, bisa. Tapi kalo mau dipikirin lebih jauh bisa juga. Sampe sejauh mana juga terserah pemirsa … hehehe … sama seperti apapun yang ditangkep sama mata kita. Boleh dilihat doang, boleh dipikirin lebih lanjut.

And now you will love Sundea and her loveable mind like I do.
Thank you for January, Dea
:)

12 for 2012 with Sundea: [ ......... ]* chapter 3

Jika belum sila baca [ ......... ]* chapter 1 dan 2

CHAPTER 3

“Kamu mencari ujung pelangikan? Buka jendela kamar kamu,” suruh suara itu.

Manik terkesiap. Dengan segera ia membuka jendela kamarnya.

Ternyata ujung pelangi jatuh persis di depan kamar Manik, membuat paving block jadi warna-warni. Pelangi itu sendiri terlihat seperti rambut yang sangat panjang. Manik tengadah mencari pangkalnya, tapi tak terlihat.

“Jangan khawatir, sebentar lagi kering. Nanti warna jendela dan paving block-mu akan kembali seperti sediakala,” ujar suara itu.

“Jadi pelangi itu apa, sih? Rambut?” tanya Manik sambil melompat keluar lewat jendela kamarnya. Disentuhnya ujung pelangi yang lembab. Tangan Manik juga jadi warna-warni.

“Iya.”

“Kenapa basah?” tanya Manik lagi.

“Karena baru dikeramas. Kamu tahu, nggak? Hujan itu air keramasku,” sahut denting itu lagi.

“Air keramas? Mhuaaaaahahahaha ….,” Manik terbahak-bahak.

“Kok tertawa, sih?” tanya suara itu.

“Karena kakakku selalu mengganggap hujan itu …. bagaimanaaaaa, begitu.”

“Kakakmu suka membuat puisi, lagu, atau cerita-cerita romantis, ya ….?”

“Iyaaaa … kok kamu tahu? Kakakku suka menulis puisi.”

“Biasanya air keramasku ini memang menginspirasi mereka, membawa mereka pada romantisme tertentu. Aku juga tidak tahu apa yang membuat air keramasku dianggap begitu galau dan sendu. Mungkin wangi shampoku yang membius mereka. Bau hujankan memang khas.”

Manik berjongkok menghirup aroma pelangi. Tetapi ternyata baunya berbeda dengan hujan.

Jika hujan tercium seperti aroma tanah basah, pelangi lebih tercium seperti bunga-bunga yang baru tumbuh.

***

Sebentar kemudian pelangi kering. Warna-warni di tangan, paving block, dan jendela kamar Manik menghilang. Manik kembali menyentuh pelangi yang ternyata agak kusut.

“Namanya juga rambut yang baru dikeramas,” kata suara asing yang berdenting dan lama-lama terdengar semakin menyenangkan bagi Manik.

“Aku sisir, ya,” Manik menawarkan.

“Boleh.”

Manik segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sisir. Rentang pelangi cukup lebar, tapi tipis seperti kertas buku tulis. Menyisirnya susah-susah gampang. Apalagi Manik hanya dapat menyisir sebagian kecil sekali dari pelangi yang panjang dan berpangkal entah dari mana itu.

Bagian terujung dari pelangi pun rapuh dan pecah-pecah.  “Shampo kamu pasti jelek,” tuduh Manik.

“Shampoku bagus. Tapi pelangi inikan panjang sekali, makanya tipis dan pecah-pecah.”

“Apakah pelangi akan tumbuh kalau dipotong?” tanya Manik.

“Iya, sih, tapi pelangi harus selalu panjang agar bisa digerai seperti ini sewaktu-waktu.”

“Ah, banyak aturan. Kalau aku potong ujung-ujungnya saja, bagian yang pecah-pecah, boleh, tidak?” tanya Manik.

“Hmmm … sepertinya tidak apa-apa.”

Manik melompati jendela kamarnya untuk mengambil gunting. Selanjutnya, perlahan-lahan ia mulai memangkas ujung-ujung pelangi yang pecah-pecah dan tidak sehat.

Setelah selesai menyisir dan menggunting ujung pelangi, Manik membuat kepangan kecil-kecil dengan hati-hati agar pelangi yang sudah tipis dan rapuh itu tidak rontok. Sepertinya pelangi suka dikepang-kepang. Ia jadi merasa cantik meski hanya Manik yang dapat melihat kepangan yang tak bermulai dari pangkal rambut itu.

“Hei, terima kasih ya karena sudah merawat rambutku. Sekarang pelangi ini harus digelung lagi,” kata suara berdenting itu ketika waktu beranjak petang.

“Tunggu dulu. Kalau pelangi cuma rambut kamu, siapa kamu sebetulnya?” tanya Manik.

“Siapa aku? Bergantung apa yang kamu maksud dengan ‘siapa’,” kata suara berdenting itu lagi.

Manik terdiam. Ia mengamati pelangi tergelung perlahan, membentuk sanggul kecil dengan latar lembayung ungu-oranye-merah muda. Cantik sekali. Manik belajar bahwa tak semuanya harus tersimpul dan tak semuanya harus terurai. Tak selamanya pelangi harus tergelung, tak selamanya pula harus tergerai.

Sore itu Manik memutuskan untuk menggambar potongan-potongan pengalamannya bermain dengan pelangi yang entah rambut siapa itu …

 ***

 Tingtong …

Bel rumah berbunyi.

“Maniiiik … tolong bukakan pintu!” seru Intan.

Bersambung …

 

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai :)

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

12 for 2012 with Sundea: [ ......... ]* chapter 2

Jika belum sila baca [ ......... ]* chapter 1 di sini

CHAPTER 2

Intan mengalihkan pandangannya. Sebuah pelangi menjuntai entah dari mana sampai ke mana. Warnanya lembut, namun jelas. Langit yang semu tidak menyamarkannya.

“Bagus, ya, Kak,” kata Manik seraya menempelkan wajahnya di jendela mobil.

“Iya. Hujan dan pelangi itu satu paket. Keduanya indah. Keduanya puisi,” sahut Intan.

“Tapi pelangi bagus. Hujan biasa-biasa saja,” kata Manik sambil masih memperhatikan pelangi selekat-lekatnya.

Intan hanya tersenyum kecil.

“Kak, kayaknya ujung pelangi itu ada di rumah kita, deh,” ujar Manik.

“Oh, ya? Bisa jadi. Kita lihat saja.”

“Ngebut, Kak.”

“Nggak mau.”

Manik memanyunkan bibirnya.

  ***

Pintu gerbang rumah adalah avant garde untuk Manik. Begitu mobil mereka berhenti di depannya, cepat-cepat Manik melompat keluar. Ia sudah berlari ke kebun belakang ketika mobil tengah merayap masuk ke dalam garasi.

Gerbang

Manik ingin cepat-cepat melihat ujung pelangi. Ia yakin pangkal warna-warna itu ada disana.

…. tapi ternyata keyakinan bisa juga salah.

“Ada, Dik?” tanya Intan yang menyusul kemudian.

Manik menggeleng kecewa.

It’s ok,” ujar Intan sambil membelai rambut adiknya. “Setidaknya kamu pernah melihat indah pelangi. Seperti orang yang pada akhirnya patah hati setelah jatuh cinta, kita tak selalu berhasil melihat ujung pelangi di batas kisah.”

Manik tidak mengerti.

“Saat melihat bias warnananya di perjalanan, kamu menemukan esensi pesona dalam indah pelangi itu sendiri, Dik.”

“Apa itu esensi?” tanya Manik.

Tapi Manik tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Ia lebih ingin tahu di mana sesungguhnya ujung pelangi itu daripada arti kata esensi.

Intan pun tak sungguh-sungguh ingin tahu isi pikiran adiknya. Maka, sebelum Manik bertanya apa-apa lagi, ia masuk ke dalam rumah sambil menghela nafas.

***

Manik suka menggambar. Ia menggambar apapun yang menarik perhatiannya atau berkelebat di dalam kepalanya. Pelangi adalah keduanya. Maka pergilah ia ke dalam kamar untuk mulai menggambar.

Meja belajar Manik persis menghadap ke jendela. Jika hari masih terang, Manik tak perlu menyalakan lampu. Setelah hujan lebat siang itu, sore jadi berlimpah cahaya. Manik suka hari yang cerah. Maka, sambil menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan, Manik mulai menarik garis di kertasnya, sampai …

CEPLAK!

“Maaf, maaf,” ucap sebuah suara yang entah dari mana datangnya. Manik tak mengenal suara itu. Bukan suara anak-anak, bukan juga suara orang dewasa. Belum tentu suara perempuan, belum tentu juga suara laki-laki. Suara tersebut ringan seperti denting.

Manik terperanjat. Gambarnya tercoret. Sesuatu yang entah apa tampak baru saja menampar jendela kamarnya dengan warna-warni. Warna-warni tersebut luruh di permukaan kaca seperti cat yang belum kering.

Manik menegakkan tubuhnya dan mengambil sikap waspada. “Siapa kamu?” tanya Manik.

“Siapa aku? Bergantung apa yang kamu maksud dengan ‘siapa’.”

“Kamu seperti kakak aku, deh. Kadang-kadang ngomongnya nggak jelas. Siapa kamu?” Manik mengulang pertanyaannya. Kali itu lebih tegas.

Bersambung …

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai :)

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang

12 for 2012 with Sundea present [ ......... ]*

CHAPTER 1

Manik mengintip apa yang ditulis kakaknya di atas selembar tisu. Kakaknya, Intan, menjadi risih.

“Ngapain kamu, Dik?”

“Ngintip,” sahut Manik seadanya.

“Pindah duduk ke depan aku saja sana, jangan ngintip-ngintip. Kalau mau pesan minum lagi, pesan saja,” suruh Intan.

“Kalau pesan es krim boleh?” tawar Manik.

“Teh!” tegas Intan.

Maka Manik berlari-lari ke bar, memesan segelas teh panas lagi, kemudian kembali duduk. Kali itu bukan di samping Intan, melainkan di depannya.

Intan selalu suka hujan. Jika hujan turun dan kebetulan ia sedang ada dekat-dekat jendela, pasti begitu kelakuannya. Duduk dengan tatapan seperti orang habis dibius, kemudian tiba-tiba menulis puisi. Ia juga sering sengaja datang ke kafe untuk duduk minum kopi berbusa sambil menulis.

Bagi Manik, hujan biasa-biasa saja. Maka ia bosan sekali menemani kakaknya di kafe itu. Ketika tehnya datang, ia mencari kesenangan sendiri. Manik meniup-niup tehnya sampai agak dingin, kemudian menjilat-jilatnya seperti kucing minum susu.

“Manik! Stop it ! Jorok!” Intan memelototi Manik.

Jadi Manik berhenti. Cemberut karena tidak tahu harus bersenang-senang bagaimana lagi.

“Ini sebabnya aku malas mengajak kamu jalan-jalan!”

“Kita nggak jalan-jalan. Kita duduk-duduk,” sanggah Manik.

“Kamu harus tahu apa itu inspirasi, Dik. Inspirasi nggak datang sembarangan seperti nyamuk. Inspirasi datang pada moment-moment tertentu, moment-moment yang menurut aku romantis seperti hujan,” tutur Intan.

Nyamuk juga nggak datang sembarangan. Dia datang kalau Bibi lupa menyemprotkan Baygon, batin Manik. Tapi ia tidak menyampaikannya. Ia memilih duduk meminum tehnya sedikit-sedikit sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja.

Kali itu Intan tidak memprotesnya.

***

Teh Manik sudah habis dan sepertinya Intan sudah menyelesaikan puisinya.

“Sudah? Yuk, pulang,” ajak Intan.

Manik sumringah.

“Karena kamu sudah baik, aku belikan es krim. Pilih nanti di Supermarket, ya,” kata Intan sambil mencubit pipi Manik.

Senyum Manik semakin lebar.

Dua bersaudara itu berjalan menuju supermarket mall. Intan menggandeng Manik yang melompat-lompat girang.

Jarak usia Intan dan Manik cukup jauh. Manik baru berusia delapan tahun, sementara Intan sudah sembilan belas tahun. Mungkin karena rentang usia juga, apa yang mereka sukai pun jauh berbeda. Intan suka menguraikan cinta dengan bahasa yang berbunga-bunga, sementara Manik tidak ingin jatuh cinta.

“Teman laki-laki aku nakal-nakal. Jadi aku nggak akan jatuh cinta,” kata Manik.

“Cinta tidak selalu indah, kok, Dik. Patah hati, cinta yang tak berbalas, juga bisa menjadi puisi. Bahkan kadang-kadang puisi yang lebih dalam,” tanggap Intan.

Manik memanyunkan bibirnya.

“Suatu saat kamu akan mengerti apa itu cinta dan apa itu kegalauan, dan hubungannya dengan hujan, Dik,” ujar Intan sambil mengusap rambut adiknya.

Manik tidak menjawab. Tapi dia merasa tak akan pernah mengerti.

***

Manik menikmati es krim pilihannya dalam perjalanan pulang. Intan mengemudi sambil sesekali turut menyenandungkan lagu Someone Like You – Adele yang melantun dari tape mobil. Sementara Intan tenggelam dalam lagu sedih yang terkurung di dalam mobil mereka, perhatian Manik terapung ketika melihat warna-warna cantik yang membias di luar jendela mobil.

“Kak, lihat ….,” tunjuk Manik.

Bersambung …

*) judul akan ditampilkan setelah cerita bersambung ini selesai :)

_

Cerita: Sundea
Ilustrasi: Lala Bohang