Gendis and her addiction

IMG_0701

“Beneran, dikelilingi sepi itu candu! Coba!”
for Gendis exhibition, 2013
Mixed media on paper

At first when I was working on Gendis exhibition back on July – August 2013 this artwork is one of my non-favourite. I didn’t like the vibe but decided to exhibit it anyway (because I like that she’s doing the knitting thing in this drawing, ah, woman).

Yesterday when I go through Gendis exhibition folder for a press request, I suddenly stopped longer on this one and my heart scream “OMG, I love it!” I love it even more than my first favourite from Gendis series.

Life and the constant change. According to the changing love and favourite, I believe something has changed inside me between July 2013 – January 2014. The drawing’s vibe which I used to “not-really-like-it-but-whatever” surprisingly become my favourite. It touches me in a unexplainable way. Maybe, maybe I become the solitude junkie as her (according to the artwork title) or maybe I just admire her comfortable-happy face surrounded only by silence and yarn? I don’t really know.

But as I always said to myself, “never fight the change inside yourself, because it’s always for the better. Embrace it.”

Photo: Dito Yuwono | Who will open his solo show “The Memories of Unidentified Experience” tomorrow 10 Jan 2014 at Kedai Kebun, Yogyakarta. From what I heard it’s gonna be a beautiful show.

Image

Gendis on Jakarta Globe

Jakarta Globe

Features: Lala Bohang Exhibition Showcases Her Inner Self [ link ]

Thankyou Katrin Figge for the article.

X

Image

my first solo exhibition in Yogyakarta

GENDIS
Gendis
a Visual Exhibition
by
Lala Bohang
Curated by 
Mira Asriningtyas
Lir Space 
Jl.Anggrek 1/ 33 Baciro – Yogyakarta
7 September – 21 September 2013
Opening
 Sabtu, 7 September 2013, 4:00 – 7:00 pm
 
 *****
“Hati kecil mengajak hati besar untuk jujur. Otak kecil mengatur keseimbangan dari otak besar. Jiwa kecil mengingatkan jiwa besar agar tetap menjadi manusia.”
Lala Bohang selalu tertarik dan mencintai hal-hal kecil yang menurutnya terasa lebih menggelitik. “Mari menjadi kecil,” adalah filosofi hidup yang berusaha ia pegang dalam keseharian, bahwa manusia sebagai individu tidak lebih dari sebuah titik kecil dari semesta yang demikian besar. Titik kecil ini akan menjadi berarti jika dapat menyatu dengan titik-titik lainnya. Pameran yang bertajuk “Gendis” merupakan sebuah bentuk interpretasinya atas jiwa kecil yang ia percaya dimiliki oleh setiap manusia. Kecil dalam hal ini tentu jauh dari makna kerdil. Kecil dalam hal ini berarti naif, perlahan namun tidak lamban, memilih untuk bertutur dan bertindak atas kejujuran, dan mengejar bahagia dari hal-hal sederhana.
Jiwa kecil ada di setiap kita namun seringkali lupa dijenguk, karenanya untuk mempersiapkan pameran ini Lala sengaja menambah frekuensi menyendiri untuk mengajak jiwa kecilnya berbincang lebih banyak. Tanpa direncanakan, Gendis, karakter gadis kecil yang sering digambar oleh Lala sejak tahun 2009 hadir dan turut menemani dalam diam, menuturkan momen solitude dalam bahasa ruang dan scenery yang membentang tanpa akhir dan waktu.
———————
Alkisah seorang gadis kecil yang tinggal dalam sebuah tempat di ujung pelangi di mana waktu mengalir dengan tidak biasa. Dunianya diciptakan untuk berbagai pilihan yang membebaskan bagi siapapun yang ada di dalamnya. Rumah dan segala isinya memiliki kaki yang memungkinkan mereka berjalan ke manapun mereka mau. Keberadaan mereka di tempat tertentu adalah suatu keadaan sukarela—karena meja, kursi, dan rumah itu memang ingin berada di sana tanpa paksaan.
Lala Bohang adalah seorang pendongeng yang menggunakan gambar hitam putih untuk menceritakan kisah-kisah Gendis di dunianya yang ajaib. Pameran ini adalah sebuah bab pendek dari keseluruhan kisah Gendis—sebuah bagian yang menceritakan tentang kesendirian Gendis yang nyaman dan kehidupannya yang penuh keajaiban.
Mira Asriningtyas, Kurator
———————
Lir Space
lirspace@gmail.com
Lala Bohang
———————
Your presence to this event will brighten my day!
my first solo exhibition in Yogyakarta

Heavy

Heavy

It’s always easier to become a difficult person rather than a simple minded.

Nowadays simplicity being the one of the hardest thing to be done. We love being difficult, we love being crazy, we love being complicated. These thing become a huge trend for the whole generation. While simplicity in my humble opinion is an honest act. Honesty will always lead you to enlightment, not easy at first to say what you want and do only what you care about, but it’s worth a try. Difficulties is an absolut but being heavy is an option.

_

Get this limited designer’s series at Verre Compparel at Brightspot Market on 14-17 Feb 2013.

For more information visit this page.

Image

just woke up from a long nap

“Bed for One” | Mixed media on gray paper, 2012

In an empty and messy room. This room used to be my sanctuary, very neat and therapeutic. But yesterday I woke up on a disgusting bed covered with dust and smell like my childhood best friend smelly feet (after his basket routine). It’s all my fault. I have been hearing too many opinions, spend time to focused on something that didn’t really matter for the last 3-4 months (yeah, slow minded) and neglecting things that actually matter. Now I have to wake up also make-up my mind and work again from the beginning. also promise myself to be an opinion-careless bitch

What matters you doesn’t matter, matter to me.
What matters to me doesn’t matter, matter to you.
What matters to you doesn’t matter, matter to them.
What matters to them doesn’t change anything.

Oh, and please do choose wisely for Jakarta. Because it really matter :)

Image

soulmate (?) | details

Soulmate (?) series
Mixed media on paper (each 20 x 31 cm)

Gendis first time in Yogya, hope she will have the opportunity to visit this city more often. Thankyou IVAA!

soulmate (?) | details