Menggambar ‘Perkara Mengirim Senja’

Gadis Kembang oleh @Vabyo
Perkara Mengirim Senja oleh @JiaEffendie
Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya oleh @hurufkecil

Kuman
Ulang oleh @putrafara
Akulah Pendukungmu oleh @salamatahari
Empat Manusia oleh @monstreza

Saputangan Merah oleh @tummythumb
Senja Dalam Pertemuan Hujan oleh @omemdisini
Kirana Ketinggalan Kereta oleh @maradilla
Gadis Tidak Bernama oleh @perempuansore
Surat ke-93 oleh @FebyIndirani
Surat ke-93 oleh @FebyIndirani
Bahasa Sunyi oleh Rita Achdris
Satu Sepatu, Dua Kecoak ... oleh @salamatahari
Guru Omong Kosong oleh @arnellism

Link-link terbaru terkait #PerkaraMengirimSenja:

Perkara Mengirim Senja di Berita Satu
Interview via Twitter bersama #Twitteriak
Review @Gembrit di blog detik

Di toko-toko buku terdekat Mei 2012
Atau kalau sudah tak sabar ingin mencicipi senja? Pre order di sini

xx

Perkara Mengirim Senja, Terbit!

Perkara Mengirim Senja

Penulis: Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Lala Bohang, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K., Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, dan Rita Achdris

Ilustrasi cover dan isi: Lala Bohang

Penerbit Serambi, April 2012

xvi + 200 halaman, 13 x 20,5 cm

ISBN: 978-979-024-502-0

Rp 48.000,-

Sinopsis:

Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, Perkara Mengirim Senja  mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsir ulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.

Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan.

***

“Menginterpretasikan karya Seno Gumira Ajidarma bukanlah pekerjaan mudah, tapi sah dan patut dicoba. Sungguh menarik menyaksikan interaksi kreativitas antara roh tulisan SGA dan generasi penerusnya. Yang jelas, jika ada penulis yang mampu menggerakkan sekian penulis muda untuk merenungkan ulang dan kemudian melahirkan karya baru atasnya, itulah magnetisme seorang Seno.”

– Dewi “Dee” Lestari, Penulis Supernova

“Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat.”

– Alberthiene Endah, Penulis Mimpi Sejuta Dolar

_

Tulisan pertama saya yang dilansir menjadi sebuah buku. BUKU. BUKU. BUKU. Masih tidak percaya. Wish me luck!

Tentang Perkara Mengirim Senja

Hari saat buku ini akan dilansir di bulan April nanti sebenarnya bermula di tahun 2000 silam, ketika saya pertama kali berkenalan dengan buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” (1996). Lembaran demi lembaran begitu membius, sampai saya merasa haus dan ingin terus melahap karya-karyanya. Menenggelamkan saya ke perburuan karyanya di sudut-sudut kota Bandung. Membawa saya ke sebuah perjalanan, berkenalan dengan Negeri Senja, Sukab, Alina, dan Donny Osmond. Tulisan Seno membuat saya menghargai bahasa Indonesia lebih dari sebelumnya, mempengaruhi saya untuk mau berkenalan lebih banyak dengan literatur kelas sastra dari negeri sendiri.

Tulisan Seno itu seperti candu, yang tidak akan pernah cukup.

Lalu sampai ke Januari 2012,  Jia Effendie mengingatkan saya akan cinta saya 12 tahun silam. Untuk Seno Gumira Ajidarma. Jia menuturkan sebuah proyek persembahan untuknya, lebih terdengar seperti dongeng di telinga saya. Saya sudah siap lahir batin membuat ilustrasi untuk buku ini. Ternyata lebih dari itu, Jia meminta saya untuk menyumbang sebuah cerpen. Beberapa kali kami memang berbagi cerita tentang keajaiban Seno, saya hanya tidak menyangka dia mengingat dan mempercayai kemampuan menulis saya untuk diterbitkan menjadi buku bersama teman-teman yang sudah menyandang predikat penulis. Tapi tentu saja kesempatan tidak datang dua kali, membuat sebuah cerita yang terinspirasi dari karya-karya Seno terlalu sureal untuk dilewatkan. Dan saya tipe orang yang tidak suka melewatkan kesempatan.

Ada 15 cerpen yang sampai di email saya, menceritakan kembali Senja, Alina dan Sukab dengan cara tumpang tindih, ada cinta berbalut kepedihan, dan juga dongeng tentang keberadaan kebahagiaan. Semuanya sangat Seno, kami semua mungkin tidak saling mengenal. Tapi dengan membaca karya mereka, saya bisa membayangkan kami semua pernah melewati fase terkagum-kagum dengan kemampuan Seno mengkhayal dan merangkai kata. Mereka adalah teman yang telah dan belum saya temui, Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K., Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, dan Rita Achdris.

Satu persatu cerpen itu saya lahap untuk mencari intinya. Dibaca beberapa kali, semata-mata mencari jiwa untuk ilustrasi yang akan menemaninya. Bisa jadi proyek ini adalah salah satu proyek komersil paling personal yang pernah saya kerjakan. Begitu menyenangkan dan menenggelamkan.

Awal minggu kemarin seluruh prosesnya selesai. Rentetan email untuk ilustrasi dalam. Direvisi. Email lagi. Merevisi tanpa disuruh. Merenung untuk cover. Email. Lalu tidak puas. Bikin lagi dari nol. Email. Masih tidak puas. Melihat draft layout. Membuat catatan ini itu. Email lagi. Menatap cover. Secara pribadi masih kurang puas. Tapi memang sudah seharusnya prosesnya berhenti.

Disadari atau tidak ketidakpuasan juga candu yang memang cuma bisa dihentikan oleh tenggat waktu.

Sekarang saya cuma bisa berharap agar Seno dan teman-teman menyukai persembahan kami, yang semata-mata berangkat dari cinta yang sederhana.

xx