sketsa dari perjalanan #GSEscape bersama @greensandsid

Beberapa potongan sketsa dari perjalanan “Escape” selama 5 hari penuh kesan dan senyum bersama Green Sands. Cerita versi panjang lebar mengenai perjalanan yang berhasil membuka syarat-syaraf tersumbat di kepala saya (jika kamu punya waktu sekitar 5-7 menit untuk membaca dan … Continue reading

Tentang Perkara Mengirim Senja

Hari saat buku ini akan dilansir di bulan April nanti sebenarnya bermula di tahun 2000 silam, ketika saya pertama kali berkenalan dengan buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” (1996). Lembaran demi lembaran begitu membius, sampai saya merasa haus dan ingin terus melahap karya-karyanya. Menenggelamkan saya ke perburuan karyanya di sudut-sudut kota Bandung. Membawa saya ke sebuah perjalanan, berkenalan dengan Negeri Senja, Sukab, Alina, dan Donny Osmond. Tulisan Seno membuat saya menghargai bahasa Indonesia lebih dari sebelumnya, mempengaruhi saya untuk mau berkenalan lebih banyak dengan literatur kelas sastra dari negeri sendiri.

Tulisan Seno itu seperti candu, yang tidak akan pernah cukup.

Lalu sampai ke Januari 2012,  Jia Effendie mengingatkan saya akan cinta saya 12 tahun silam. Untuk Seno Gumira Ajidarma. Jia menuturkan sebuah proyek persembahan untuknya, lebih terdengar seperti dongeng di telinga saya. Saya sudah siap lahir batin membuat ilustrasi untuk buku ini. Ternyata lebih dari itu, Jia meminta saya untuk menyumbang sebuah cerpen. Beberapa kali kami memang berbagi cerita tentang keajaiban Seno, saya hanya tidak menyangka dia mengingat dan mempercayai kemampuan menulis saya untuk diterbitkan menjadi buku bersama teman-teman yang sudah menyandang predikat penulis. Tapi tentu saja kesempatan tidak datang dua kali, membuat sebuah cerita yang terinspirasi dari karya-karya Seno terlalu sureal untuk dilewatkan. Dan saya tipe orang yang tidak suka melewatkan kesempatan.

Ada 15 cerpen yang sampai di email saya, menceritakan kembali Senja, Alina dan Sukab dengan cara tumpang tindih, ada cinta berbalut kepedihan, dan juga dongeng tentang keberadaan kebahagiaan. Semuanya sangat Seno, kami semua mungkin tidak saling mengenal. Tapi dengan membaca karya mereka, saya bisa membayangkan kami semua pernah melewati fase terkagum-kagum dengan kemampuan Seno mengkhayal dan merangkai kata. Mereka adalah teman yang telah dan belum saya temui, Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K., Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, dan Rita Achdris.

Satu persatu cerpen itu saya lahap untuk mencari intinya. Dibaca beberapa kali, semata-mata mencari jiwa untuk ilustrasi yang akan menemaninya. Bisa jadi proyek ini adalah salah satu proyek komersil paling personal yang pernah saya kerjakan. Begitu menyenangkan dan menenggelamkan.

Awal minggu kemarin seluruh prosesnya selesai. Rentetan email untuk ilustrasi dalam. Direvisi. Email lagi. Merevisi tanpa disuruh. Merenung untuk cover. Email. Lalu tidak puas. Bikin lagi dari nol. Email. Masih tidak puas. Melihat draft layout. Membuat catatan ini itu. Email lagi. Menatap cover. Secara pribadi masih kurang puas. Tapi memang sudah seharusnya prosesnya berhenti.

Disadari atau tidak ketidakpuasan juga candu yang memang cuma bisa dihentikan oleh tenggat waktu.

Sekarang saya cuma bisa berharap agar Seno dan teman-teman menyukai persembahan kami, yang semata-mata berangkat dari cinta yang sederhana.

xx