sketsa dari perjalanan #GSEscape bersama @greensandsid

GSEscape GSEscape (1) GSEscape (2) GSEscape (5) GSEscape (7) GSEscape (8) GSEscape (9) GSEscape (10) GSEscape (11)

Beberapa potongan sketsa dari perjalanan “Escape” selama 5 hari penuh kesan dan senyum bersama Green Sands. Cerita versi panjang lebar mengenai perjalanan yang berhasil membuka syarat-syaraf tersumbat di kepala saya (jika kamu punya waktu sekitar 5-7 menit untuk membaca dan seharusnya punya) bisa diintip di sini :)

Perjalanan kami (saya, Poppie, dan Sakti) juga berhasil diabadikan dalam bentuk gambar-gambar bergerak dalam warna kece (baca: video) di bawah ini. Silahkan ditonton untuk meresapi biru langit yang bening dan gumpalan awan sehat yang masih memadati langit-langit lain di luar kota-kota padat bangunan dan ambisi yang mungkin sedang kamu huni sekarang. Kalau saya, masih menjadi penghuni kota yang beratapkan warna abu-abu. Tapi tidak apa-apa, tetap disyukuri setiap detiknya.

Sekarang Escape 2 sedang berlangsung, 3 pemenang yang beruntung sedang “Escape” sejenak ke Taman Nasional Berbak, Jambi, untuk keluar dari hiruk pikuk kota-kota besar untuk masuk ke dalam hutan dan mengunjungi konservasi harimau di sana. Bagi yang belum tahu mengenai program menyenangkan ini jangan khawatir karena akan ada Escape 3! yang destinasinya masih dirahasiakan.

Akhir kata, jangan lupa follow Twitter Green Sands agar tidak ketinggalan infonya!

XOXO,

A happy escapist

sketsa dari perjalanan #GSEscape bersama @greensandsid

the irony of this (artsy) country

I still remember back on mid 2008. When I start drawing religiously (like every single day) without knowing why and what I want to achieve through my drawing. Well, the truth is I still confuse until today. 4 years already passed, slowly but not surely I get to know people from this so called art scene. The big guy also the struggle one. They’re all talented and know exactly what they’re doing, both of them. But I can see the tiredness in their face, just like what I feel. Because we fight alone. We have to find our way alone. We have to work hard on our art alone. We have to motivating ourself alone. We have to keep searching how to get noticed. We have to keep reminding ourself that we’re doing all of this because we believe in ourself, in our work. Some of you will said, it’s only 4 years. But believe me I know many people who work their ass off for more than 10 years (the 10,000 hours rule doesn’t work here), got the talent, got the mind, got the spirit, got the ‘mecun’ thing but nothing happen.

I did a little research about this scene out there, I envy them. They seem like have all kind of help we needed here. The organisation, the people, the website, the community, the how to, the support, the exhibition, the everything. When I visited Yogya for Artjog2012, I can see that they’re luckier than us here in Jakarta. Not much but enough. It’s not easy to live as an fulltime artist here, we have to work our ass to get money, to live, to socialize, to held an exhibition, to make our art. And that’s the evil circle. We’re worn out and feel tired all the time. And we’re still fighting alone. Well maybe not we, it’s more like my current situation. I have 3 notebooks full with sketches (and lost 1 already) and ideas and to do list without any realization, not even close. There’re days when I feel so tired that I’ll hate my own drawing and ideas. Also I hate people who have too much opinion. I become this other “full with hate” person. Hate that.

When I feel so numb, lazy, and negative.

I received this strange email from a girl, Felicia, she said she’s from +62. She asked for a meeting, I said yes because I always open for every possibilities and anything outside my routine. She’s not an Indonesian and neither her partner, Patrick. They’re from Canada and England. They have this mission to spread Indonesian artist to the world scene. They already approach almost every artist in Jakarta and now Bandung and Yogyakarta. The big guy and the struggling one, like myself. I asked them “Why?” and they said “Why not?”. And I can feel their honesty, without any hidden agenda. Which is very rare to found here. According to their opinion, they see too many wasted talents here (in Indonesia) because of the lack of opportunities and information. That exact moment I feel a bit angry with this country or I have to say the government. The carelessness. Why it always have to be someone from the outside? And believe me, these two are working really fast and based on a tight deadline. How not Indonesian is that?

I don’t care how they’ll running this +62. Or is it gonna work or not. But I like the spirit. The nothing to lose spirit. The unstoppable atmosphere.

Left to right: Interview from Andi Rharharha, Ika Vantiani, Emte, me, Wedhar Riyadi, Ella Wijt, Wormo, Popo, Koma, and Ika Putranto and more to come.

One more thing, I might still full with hate here and there. But I’m getting better inside (yeah, yoga’s working) and get back to work.

_

PS: Don’t worry. This kind of writing won’t make any appearance in the near future.

Jak-art-a, 11 Oct ’12

Image

hand & brain stretching

Love is not something you’ve to pursuit. It just happen.

“Believe me everyone’s life is as boring as yours, so chill!”
Kutu-an

tek-kotek anak ayam berkotek
Peanut butter jar for my brush cleaner (on the top-right)
Pencil case: A souvenir from Artjog 2012 illustrated by Wedhar Riyadi and all my dearest pens and pencils.
My cliche obsession (the woman not the man [?])
  • Pouring all the thoughts fearlessly (on paper)
  • Eat like a pig – taco + taco, nasi goreng ijo, green tea cake, etc.
  • Commission works
  • Bryan Boy and Garance Dore on Pardon my French.
  • Being a cliche (look at previous point)
  • Being alone
  • Alone

Have to be done soon to do list:

  • Finished 5 give away drawings for 5 people from here
  • Doing something with this ‘Sometimes I believe six impossible things before breakfast’ thing.
hand & brain stretching

I don’t know what to write as the post title

Favourite spot from my previous bedroom. I really miss that wall.

I don’t know what to write as the post title

Tentang Perkara Mengirim Senja

Hari saat buku ini akan dilansir di bulan April nanti sebenarnya bermula di tahun 2000 silam, ketika saya pertama kali berkenalan dengan buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” (1996). Lembaran demi lembaran begitu membius, sampai saya merasa haus dan ingin terus melahap karya-karyanya. Menenggelamkan saya ke perburuan karyanya di sudut-sudut kota Bandung. Membawa saya ke sebuah perjalanan, berkenalan dengan Negeri Senja, Sukab, Alina, dan Donny Osmond. Tulisan Seno membuat saya menghargai bahasa Indonesia lebih dari sebelumnya, mempengaruhi saya untuk mau berkenalan lebih banyak dengan literatur kelas sastra dari negeri sendiri.

Tulisan Seno itu seperti candu, yang tidak akan pernah cukup.

Lalu sampai ke Januari 2012,  Jia Effendie mengingatkan saya akan cinta saya 12 tahun silam. Untuk Seno Gumira Ajidarma. Jia menuturkan sebuah proyek persembahan untuknya, lebih terdengar seperti dongeng di telinga saya. Saya sudah siap lahir batin membuat ilustrasi untuk buku ini. Ternyata lebih dari itu, Jia meminta saya untuk menyumbang sebuah cerpen. Beberapa kali kami memang berbagi cerita tentang keajaiban Seno, saya hanya tidak menyangka dia mengingat dan mempercayai kemampuan menulis saya untuk diterbitkan menjadi buku bersama teman-teman yang sudah menyandang predikat penulis. Tapi tentu saja kesempatan tidak datang dua kali, membuat sebuah cerita yang terinspirasi dari karya-karya Seno terlalu sureal untuk dilewatkan. Dan saya tipe orang yang tidak suka melewatkan kesempatan.

Ada 15 cerpen yang sampai di email saya, menceritakan kembali Senja, Alina dan Sukab dengan cara tumpang tindih, ada cinta berbalut kepedihan, dan juga dongeng tentang keberadaan kebahagiaan. Semuanya sangat Seno, kami semua mungkin tidak saling mengenal. Tapi dengan membaca karya mereka, saya bisa membayangkan kami semua pernah melewati fase terkagum-kagum dengan kemampuan Seno mengkhayal dan merangkai kata. Mereka adalah teman yang telah dan belum saya temui, Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K., Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, dan Rita Achdris.

Satu persatu cerpen itu saya lahap untuk mencari intinya. Dibaca beberapa kali, semata-mata mencari jiwa untuk ilustrasi yang akan menemaninya. Bisa jadi proyek ini adalah salah satu proyek komersil paling personal yang pernah saya kerjakan. Begitu menyenangkan dan menenggelamkan.

Awal minggu kemarin seluruh prosesnya selesai. Rentetan email untuk ilustrasi dalam. Direvisi. Email lagi. Merevisi tanpa disuruh. Merenung untuk cover. Email. Lalu tidak puas. Bikin lagi dari nol. Email. Masih tidak puas. Melihat draft layout. Membuat catatan ini itu. Email lagi. Menatap cover. Secara pribadi masih kurang puas. Tapi memang sudah seharusnya prosesnya berhenti.

Disadari atau tidak ketidakpuasan juga candu yang memang cuma bisa dihentikan oleh tenggat waktu.

Sekarang saya cuma bisa berharap agar Seno dan teman-teman menyukai persembahan kami, yang semata-mata berangkat dari cinta yang sederhana.

xx

Tentang Perkara Mengirim Senja

my kind of lady: Daphne Guinnes

Move along Gaga, I’m not hating nor your biggest fan. But Daphne is the truer form of your “Born This Way” statement.

my kind of lady: Daphne Guinnes