It’s always easier to become a difficult person rather than a simple minded. Nowadays simplicity being the one of the hardest thing to be done. We love being difficult, we love being crazy, we love being complicated. These thing become … Continue reading →
So, I (re)set-up a facebook page. Because, believe me I don’t have any ‘drawing thing’ in my personal facebook page. I still have it for the sake of birthday notification, friend’s marriage(sssssssss), birth(sssssss), and whatever notification that consider as an … Continue reading →
I lost and I feel bad about my self. My ability. From what I remember the last time I winning a competition was back in my high school years. I continuously winning drawing competition back in my hometown, golden era … Continue reading →
Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya oleh @hurufkecil
Go visit my homeless fuschia hands and bald mannequin please?
Senayan City Audi Fashion Nation
Illustrated Fashion Installation
Together with 6 talented illustrators
11 April – 22 April At Senayan City Ground Floor
Go check them out!
_
The Eye Has to Travel*
Mix Media
244 x 122 x 244 cm
Mata adalah sumber kehidupan dari tubuh. Tanpa mata yang banyak melihat tubuh tidak akan banyak merasa. Perjalanan menyapa alam dan isinya adalah salah satu kegiatan puitis dan menghidupkan kecantikan jiwa. Kecantikan bukan semata-mata polesan kulit luar atau balutan benda belaka, hidupkan mereka dengan berlari melihat dunia. Mencium wangi daun bercampur embun di kaki pegunungan, mendengar alunan angin berdesir di padang rumput, atau bahkan menyeruak di antara riak laut sambil mengintip ubur-ubur melintas dengan anggunnya. Seorang wanita yang melihat banyak hal tanpa takut kehilangan kecantikan kulit luarnya adalah wanita yang sebenar-benarnya memiliki kecantikan yang jujur.
O God, when I listen to the voices of animals, the sounds of trees, the murmurings of water, the singing of birds, the whistling of the wind, or the boom of thunder, I see in them evidence or Your unity; I feel that You are supreme power, omniscience, supreme knowledge, and supreme justice. ~Aleph, Paulo Coelho
Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, PerkaraMengirimSenja mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsir ulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.
Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan.
***
“Menginterpretasikan karya Seno Gumira Ajidarma bukanlah pekerjaan mudah, tapi sah dan patut dicoba. Sungguh menarik menyaksikan interaksi kreativitas antara roh tulisan SGA dan generasi penerusnya. Yang jelas, jika ada penulis yang mampu menggerakkan sekian penulis muda untuk merenungkan ulang dan kemudian melahirkan karya baru atasnya, itulah magnetisme seorang Seno.”
– Dewi “Dee” Lestari, Penulis Supernova
“Sihir cerita dengan aransemen wacana yang memikat.”
– Alberthiene Endah, Penulis Mimpi Sejuta Dolar
_
Tulisan pertama saya yang dilansir menjadi sebuah buku. BUKU. BUKU. BUKU. Masih tidak percaya. Wish me luck!
Hari saat buku ini akan dilansir di bulan April nanti sebenarnya bermula di tahun 2000 silam, ketika saya pertama kali berkenalan dengan buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” (1996). Lembaran demi lembaran begitu membius, sampai saya merasa haus dan ingin terus melahap karya-karyanya. Menenggelamkan saya ke perburuan karyanya di sudut-sudut kota Bandung. Membawa saya ke sebuah perjalanan, berkenalan dengan Negeri Senja, Sukab, Alina, dan Donny Osmond. Tulisan Seno membuat saya menghargai bahasa Indonesia lebih dari sebelumnya, mempengaruhi saya untuk mau berkenalan lebih banyak dengan literatur kelas sastra dari negeri sendiri.
Tulisan Seno itu seperti candu, yang tidak akan pernah cukup.
Lalu sampai ke Januari 2012, Jia Effendie mengingatkan saya akan cinta saya 12 tahun silam. Untuk Seno Gumira Ajidarma. Jia menuturkan sebuah proyek persembahan untuknya, lebih terdengar seperti dongeng di telinga saya. Saya sudah siap lahir batin membuat ilustrasi untuk buku ini. Ternyata lebih dari itu, Jia meminta saya untuk menyumbang sebuah cerpen. Beberapa kali kami memang berbagi cerita tentang keajaiban Seno, saya hanya tidak menyangka dia mengingat dan mempercayai kemampuan menulis saya untuk diterbitkan menjadi buku bersama teman-teman yang sudah menyandang predikat penulis. Tapi tentu saja kesempatan tidak datang dua kali, membuat sebuah cerita yang terinspirasi dari karya-karya Seno terlalu sureal untuk dilewatkan. Dan saya tipe orang yang tidak suka melewatkan kesempatan.
Ada 15 cerpen yang sampai di email saya, menceritakan kembali Senja, Alina dan Sukab dengan cara tumpang tindih, ada cinta berbalut kepedihan, dan juga dongeng tentang keberadaan kebahagiaan. Semuanya sangat Seno, kami semua mungkin tidak saling mengenal. Tapi dengan membaca karya mereka, saya bisa membayangkan kami semua pernah melewati fase terkagum-kagum dengan kemampuan Seno mengkhayal dan merangkai kata. Mereka adalah teman yang telah dan belum saya temui, Valiant Budi Yogi, Jia Effendie, M. Aan Mansyur, Putra Perdana, Sundea, Faizal Reza, Utami Diah K., Mudin Em, Maradilla Syachridar, Theoresia Rumthe, Arnellis, Feby Indirani, dan Rita Achdris.
Satu persatu cerpen itu saya lahap untuk mencari intinya. Dibaca beberapa kali, semata-mata mencari jiwa untuk ilustrasi yang akan menemaninya. Bisa jadi proyek ini adalah salah satu proyek komersil paling personal yang pernah saya kerjakan. Begitu menyenangkan dan menenggelamkan.
Awal minggu kemarin seluruh prosesnya selesai. Rentetan email untuk ilustrasi dalam. Direvisi. Email lagi. Merevisi tanpa disuruh. Merenung untuk cover. Email. Lalu tidak puas. Bikin lagi dari nol. Email. Masih tidak puas. Melihat draft layout. Membuat catatan ini itu. Email lagi. Menatap cover. Secara pribadi masih kurang puas. Tapi memang sudah seharusnya prosesnya berhenti.
Disadari atau tidak ketidakpuasan juga candu yang memang cuma bisa dihentikan oleh tenggat waktu.
Sekarang saya cuma bisa berharap agar Seno dan teman-teman menyukai persembahan kami, yang semata-mata berangkat dari cinta yang sederhana.
Too many art directors not enough artists. Not enough people with their hands dirty, just watching. ~Isabel Toledo
Being an artist like there’s no safety net to catch you. You just have to figure out how to fly in your own way and go to your own place wherever you might going. There’s no math in this. ~Ruben Toledo
You don’t go to be an artist thinking about making money, that’s just icing on the cake and that’s a wonderful reward from the universe. ~Ruben Toledo
Thing to worry a lot is “what is your individual finger print that you want to show to the world”. Writing or music or dancing or science. ~Ruben Toledo
Consistency is how you creating your body of work. We always talking about artist work is about creating your languange. It takes time to create your languange. Your letters, from all of that letters you start arrange sentences, from sentences you arrange paragraphs, that’s how your story comes out. Its your body of work, and it looks like no one elses, feel like no one elses. ~Ruben Toledo
Its not how long you’re sleep but how much you achieve when you’re up. ~Ruben Toledo
I’m in love and I will always love this couple. I love how they replace word “passion” with “finger print”. I love the way Ruben talk so smart and fearlessly. This video really made my day.
And yes, am a suck for quote. I really love to quote other people statement that inspired or touch me in any way. For me quote is the most honest form of people thoughts.